Jumat, 16 Desember 2011

Belajar Pada Rumput

Saudara yang terkasih, pasti Anda tahu apa itu rumput, tapi pernahkah Anda mencoba mengamati dan belajar darinya? Kalau belum pernah, sekarang saatnya kita mencoba melihat, mengingat, dan memahami rumput. Saya sendiri baru belajar dari rumput setelah membaca tulisan seorang Pastor mengenai makna hidup rumput. Tulisan ini juga berdasarkan pada buku karya Rm. Djono, O.Carm. Selamat menikmati.

Bagaimanakah rupa rumput itu? Kecil dan pendek. Tapi apakah dia tampak jelas di antara pohon-pohon besar atau tanaman-tanaman lainnya? YA! Bagaimana bisa rumput yang pendek kerdil terlihat di antara tanaman-tanaman lain yang jauh lebih besar darinya?
Simple saja, karena dia kecil dan tidak memamerkan dirinya. Kerendahan hati inilah yang bisa menonjolkan diri kita, sekalipun kita tidak memiliki apa-apa, sekalipun kita hanya orang kecil di antara kawan-kawan kita. Intinya, jangan menjadi sombong dalam menjalani hidup ini. Percayalah meski kita kecil, kita tetap memiliki pengaruh yang besar. Sekecil apa pun diri kita, kita memiliki peranan di dunia ini. Layaknya rumput, meski kecil, dia bisa memberi kehedupan bagi herbivora.


Rumput yang tumbuh di mana-mana tersebut setiap hari diinjak-injak baek sengaja atau tidak. Tertiup angin baik sepoi atau kencang. Bagaimana reaksinya? Kembali berdiri! Demikian kita seharusnya. Kalau ditimpa masalah, hadapi! Dalam buku Ketika Hidup Menjadi Bermakna disebutkan 3 sikap manusia dalam menghadapi tantangan. Pertama takut, kedua menghadapi dan ambil resiko, dan terakhir diam. Tampak jelas tanpa perlu kutanya bahwa rumput mengambil sikap kedua. Bagaimana dengan diri Anda?

Kita intip lebih dalam dari sikap pertama. Takut. Wajar saja kita takut, itu sikap normal seorang manusia. KBBI menjabarkan bahwa takut adalah merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana. Bagaimana kita tahu sesuatu itu mendatangkan bencana atau tidak kalau tidak kita hadapi? Boleh saja takut, tapi ingat tenangkan diri sebelum mengambil keputusan selanjutnya. Ketakutan sering kali membawa kita kepada keputusan yang salah. Kalau bisa dikatakan seperti saat cowok mau nembak cewek, biasanya ada sedikit ketakutan meski sudah mempersiapkan sedemikian rupa, kalau si cowok tenang, dia dapat mengatakannya, tapi kalau tidak, sia-sia persiapannya. Jangankan ditolak, nembak aja sudah gak terucap. Kira-kira seperti itu rasa takut dalam menghadapi masalah.

Sikap kedua adalah menghadapi dan ambil resiko. Cara terefektif dalam menghadapi masalah. Kalau kita tidak menghadapi bagaimana kita bisa tahu hasil akhir dari masalah itu. Jadi, sebaiknya kita coba menghadapinya. Sukses atau gagal adalah hadiah untuk kita. Kalau sukses, berarti cara kita menghadapinya benar. Kalau gagal, berarti kita telah mengetahui cara demikian tidak mempan untuk masalah tersebut. Begitu yang tertuang dalam buku yang kubaca. Selanjutnya ingat : BERPIKIR POSITIF. Itu kunci dari kesuksesan sikap kedua ini. Sukses tidaknya seseorang dalam masalah tidak berhenti pada selesainya masalah dengan baik atau tidak, melainkan mampu tidaknya orang tersebut untuk maju menghadapi masalah lain yang telah menunggu. Jika dia gagal dalam menyelesaikan masalah pertama tetapi dia berani menghadapi masalah berikutnya lagi, maka itu lah yang disebut keberhasilan. Jika dia gagal dan tidak berani menghadapi yang lagi, itu lah kegagalan.

Sikap terakhir adalah diam. Tidak melakukan apa-apa, hanya diam saja. Memang pepatah bilang diam adalah emas. Tapi bagiku diam adalah perak, bertindak sesuai waktu adalah emas. Saudara, kita seharusnya dapat menentukan kapan harus diam, kapan harus bicara, dan kapan harus bertindak. Saat ada kawan kita ingin bercerita, saat itu kita diam. Saat ada masalah di depan mata, saat itu kita bertindak. Masalah yang kita diamkan saja tidak akan selesai dan tidak akan pergi. Malahan masalah baru datang juga. Tumpukan masalah itu nantinya akan menjadi beban.




Sikap-sikap seperti itulah yang ingin diajarkan oleh rumput kepada kita. Dalam menjalani injakan-injakan itu, rumput tidak pernah mengeluh. Dia malah tampak riang dengan terus berdiri lagi. Saat angin menerpanya, kita malah mengatakan "rumput yang bergoyang". Rumput tampak senang dengan semua itu. Demikian kita seharusnya menghadapi hidup yang ada dengan riang. Jika kita yang jelek, maka alam akan mengatur sedemikian rupa sehingga tampak jelek. Namun jika kita berpikir positif dan melihat semua baik adanya, maka hidup kita pun akan senang.

Ada banyak potensi dalam diri kita yang tidak kita sadari meski kita hanya orang kecil tanpa kuasa. Tapi kita tetaplah harus ingat bahwa meski kecil, kita memiliki peran penting di dunia. Dan meski kita kecil, tidak berarti kita tidak mendapat cobaan hidup. Tetapi karena kita kecil kita mendapat cobaan, agar kita semakin tumbuh besar.

Jangan sombong dan jangan takut. Hadapi masalah dengan berani dan berpikir positif, demikian yang dapat saya simpulkan dari tulisan Rm. Djono tersebut. Ada baiknya kita merenungkan tulisan ini. Sekali lagi, mari kita meniru rumput yang kecil tapi tidak mengenal takut.

(Salam)

2 komentar:

  1. hohoho...

    saya emang rumput tek .
    rumpyt yang besarr,, hehe

    BalasHapus
  2. kalo itu harus dicabut berarti..hahahaha
    coba liat rumput d lapangan bola,alun2,halaman rumah orang2 kaya..mereka kecil2 kok...
    yang besar2 dicabut..hahahaha

    BalasHapus